OPINI

Manusia Berpikir Untuk Bersastra

Manusia salah satu makhluk dari makhluk yang ada di bumi atau semesta yang luas ini dan memilki keunggulan diatas makhluk lainnya. Merenung dan perenungan adalah suatu hal yang dapat dilakukan oleh manusia saja yang merupakan ciri khas pembeda manusia dengan makhluk yang lain. Merenung adalah mimikirkan sesuatu, sedangkan perenungan adalah proses dari merenung untuk melihat dunia sebagai dunia penuh kemungkinan. Perenungan yang dilakukan manusia yang memiliki akal budi ini dapat menghasilkan imajinasi yang beragam dari setiap manusia. Imaginasi berarti kreativitas, kemampuan untuk membentuk dunia baru berupa ide bersifat fiktif yang sewaktu-waktu akan menjadi nyata. Manusia tidak mempunyai insting-insting seperti hewan yang melakukan kehendaknya secara langsung tanpa memikirkan akibat dari tindakannya. Dunia manusia luas dan terbuka. Luas dan terbuka berarti kegiatan manusia tidak hanya selalu tentang makan, minum, tidur dan berburu, melainkan lebih dari itu kodrati manusia hidup untuk terus berpikir agar senantiasa hidup sebagai manusia yang memiliki akal.

Berpikir merupakan proses representasional atau simbolik. Ketika kita membayangkan sesuatu atau berusaha memecahkan persoalan, kita disebut berpikir. Berpikir akan memunculkan proyeksi tentang persepsi secara akal pribadi, kombinasi mental kerangka berpikir, visualisasi  objek benda, simbol dan konsep yang semua itu aktivitas yang menggunakan ide. Khadijah (2006:117). Berpikir adalah sebuah proses representasi mental baru yang dibentuk melalui transformasi  informasi dengan interaksi yang kompleks atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, logika, imajinasi dan pemecahan masalah. Berpikir merupakan aktivitas untuk mencari kebenaran secara ilmiah maupun kebenaran pribadi bergantung keadaan yang sedang berlaku.

Sesuai judul ^manusia berpikir untuk bersastra^ maka manusia ini memiliki potensi besar yang menjadikannya sebagai makhluk yang spesial dari makhluk lainnya, karena manusia dibekali aqal untuk untuk berpikir, dari berpikir timbulkan ide atau gagasan yang nantinya bisa menjadi sastra. Proses berpikir tadi dan menghasilkan ide tidak bisa kita sebut bersastra, melainkan sebuah proses pemikiran secara kodrati sebagai manusia, untuk mencapai tingkat bersastra diperlukan beberapa aktivitas sebagai penunjang untuk mencapainya. Kita pasti pernah mendengarkan sebuah peribahasa ^Gajah mati meninggalkan gadingnya^, ^Harimau mati meninggalkan kulitnya^, sedangkan manusia mati meninggalkan karya. ^Manusia mati meninggalkan karya^ peribahasa tersebut sangat cocok untuk manusia yang secara kodrat diciptakan untuk berpikir, karena saat manusia mati, ia akan dilupakan oleh dunia, ia akan tenggelam ke dasar samudra paling dalam, untuk itu kita sebagai manusia harus meninggalkan sebuah karya, kaitanya dengan bersastra tadi, maka sejatinya manusia apabila ingin dikenang maka ia harus bersastra untuk menuangkan ide-nya agar tidak dilupakan, ide tersebut ditulis berupa tulisan-tulisan yang bisa menjadi buku yang nantinya manusia lain bisa menikmati karya tersebut. Bersastra juga memiliki dampak positif yang dapat meningkatkan minat baca dan tulis anak Indonesia yang dikategorikan kurang dalam membaca apalagi menulis. Oleh karena itu, aktivitas berpikir manusia harus kita manfaatkan untuk bersastra yang dapat kita tuangkan menjadi buku untuk menunjukkan eksistensi kita sebagai manusia pemikir dan nantinya juga akan berdampak positif untuk minat baca dan menulis terutama untuk anak-anak yang akan menjadi penurus bangsa, dapat kita contoh negara-negara maju yang memiliki tingkat baca yang tinggi untuk anak bangsanya sehingga, pengetahuan mereka seiring juga meningkat dengan membaca dan nantinya yang bisa kita sebut budaya literasi ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan di negara tersebut. Budaya literasi juga perlu digencarkan dalam lingkup sekolah terutama bagi pendidik untuk mata pelajaran.

Budaya literasi di sekolah erat kaitannya dengan siswa dan guru sebagai subjek dan objek pendidikan. Selanjutnya, peningkatan budaya literasi juga memiliki cara yang berbeda-beda bergantung objeknya/ pelakunya. Siswa dan guru memiliki kesulitan yang berbeda dan itu sangat mempengaruhi cara penerapannya. Siswa cenderung lebih sulit daripada orang dewasa dalam hal ini guru, siswa masih memiliki dimensi rasionalitas dimana apa yang ia lakukan hanya untuk saat ini saja dan tidak menerangan jauh ke depan, sehingga dalam hidupnya apa yang meraka lakukan senantiasa bermain dan bermain, beberapa dari mereka memiliki motivasi yang bagus untuk membaca, bisa faktor lingkungan dan keluarga yang membuat mereka jauh lebih baik untuk literasi ketimbang anak lain. Untuk itu, mengatasi masalah literasi pada anak dengan cara menyajikan buku yang sesuai dengan minatnya da nada gambarnya juga menjadi nilai tambahan agar anak tersebut suka, cara yang lain bisa dengan diberikan rangsangan dengan cara mendongeng untuk anak SD dan berbagai cerita untuk SMP agar anak tersebut merasa dilibatkan dan merasa tertarik, lebih-lebih pada saat anak PAUD lebih baik sebagai pengenalan budaya literasi. Budaya literasi untuk guru masih terbilang cukup mudah untuk meningkatkannya, untuk guru memiliki melek baca dengan sendirinya karena mereka pendidik perlu membaca untuk mengajari muridnya. Kaitannya dengan sekolah, apabila siswa dan guru berkerja sama meningkatkan literasi maka sekolah akan menjadi produktif dengan karya-karya yang berhasil dibukukan.

SMP Taruna Jaya 1 merupakan sekolah yang mencanangkan program literasi. Tidak hanya mata pelajaran Bahasa Indonesia, namun untuk seluruh mata pelajarannya. Dengan Literasi ini, maka terbukalah berbagai wawasan keilmuan yang bisa didapat oleh Guru dan siswa. Apalagi dengan fasilitas yang disediakan sekolah yaitu perpustakaan dan web sekolah di www.tarunajaya.sch.id. Siswa dan guru bisa menuliskan artikel ataupun opini untuk bisa dimasukkan ke web tersebut. Saya sebagai guru bahasa Indonesia punya harapan besar dalam  menulis opini dan artikel. Tidak hanya itu saja, saya berharap pada tahun pelajaran ini, sekolah mampu menerbitkan buku yang berisi karya-karya guru dan siswa.

Untuk Guru dan Siswa, Ayo berkarya, Tetap Semangat dan Sehat.

 
Daftar Pustaka :

1. Ahyar. (2019). Apa Itu Sastra Jenis-jenis Karya Sastra dan Bagaimanakah Cara Menulis dan Mengapresiasi Sastra. Yogyakarta: DEEPUBLISH

2. Muhni. (1996). Manusia Menurut Ortega Y. Gasset. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

3. Khadijah. (2006). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Balai Pustaka

 

Ilham Fajri Mahyadi, S.Pd

Guru Bahasa Indonesia

Tim Redaksi (TW), 28-06-2021

  1. Siasati Masa Pandemi, Gelar Aneka Lomba Daring
  2. Pendidikan Karakter Lewat Kegiatan Jumat Berkah
  3. Bangun Budaya Literasi, Coba Optimalkan Peran Perpustakaan
  4. Meraih Impian Masuk SMA dan SMK Negeri dengan Prestasi Lomba
  5. Jumat Berkah, SMP Taruna Jaya Berbagi Nasi Kotak
  6. Asesmen berbasis Kompetensi pada Ujian Praktik Daring Tahun Ajaran 2020-2021
  7. Berbagi Kebaikan dalam Jumat Berkah
  8. Rizky Amelya, Peraih Nilai AKM Tertinggi di SMP Taruna Jaya 1 Surabaya Mendapat Penghargaan dari MKKS Surabaya Utara
  9. Tingkatkan Kompetensi Guru dalam Teknologi E-Learning dengan Pelatihan Microsoft 365
  10. Sosialisasi Penggunaan Microsoft 365 Untuk Pembelajaran Daring di SMP Taruna Jaya 1 Surabaya
  1. Tidak Ada Yang Tidak Mungkin, Selama Kita Mencoba dan Berusaha
  2. Pameran Karya Virtual dengan Google Sites
  3. Belajar Dasar-Dasar Teknologi Kapal Laut dan Kapal Selam di Sains
  4. Games “Guess the Picture” Media Pembelajaran untuk Materi Descriptive Text
  5. Pegunungan Ditinjau dari Sains dan Al Quran
  6. Ramadhan 1442 H Penuh Berkah
  7. Shining Ramadhan
  8. Pocket Code dan Pocket Paint sebagai Media Belajar di Kelas Quantum
  9. Filosofi Semanggi dan Ilmu
  10. Mewaspadai Varian Baru Corona B117 dan D-dimer Pembekuan Darah Pasien COVID-19
  1. Jadwal PAT Kelas 7 dan 8 Tapel 2020-2021
  2. Lowongan Guru Bahasa Indonesia
  3. Jadwal Ujian Sekolah Daring, Tapel 2020-2021
  4. Lowongan Guru Bahasa Inggris
  5. Lowongan Tenaga Security dan Tenaga Kebersihan