OPINI

Sekolah yang Ramah dan Bersahabat

Pernah mendengar istilah "happy teaching and happy learning"? Dalam bahasa sederhana, SMP Taruna Jaya I Surabaya meringkasnya sebagai "sekolah yang ramah dan bersahabat". Sejak sekian tahun lalu kami menancapkan visi itu, harus diakui, bahwa hingga detik ini pun, SMP Taruna Jaya masih berjuang untuk penerapannya. Iya, kami benar-benar masih berjuang dengan keras dan berkeringat :)

Sekolah yang ramah dan bersahabat

Untuk memudahkan diorama kami perihal "sekolah yang ramah dan bersahabat", kali ini saya akan banyak menyadur pengalaman yang ditulis oleh Sophia Faridi. Ia adalah guru Bahasa Inggris kelas IX di Baker College Prep, Chicago, Amerika Serikat. Dalam kisahnya, ia begitu terkesan dengan sistem pendidikan di Finlandia yang disebut sebagai innovative schools. Ia telah menuliskan buah kunjungannya bersama beberapa guru Amerika yang lain, ketika singgah ke Oppi Festival di Helsinki, Finlandia. Dengan tegas ia menyebut para guru dan siswa di Finlandia benar-benar telah merasa bahagia. Siswa menikmati pengalaman belajar mereka, sementara guru tampak puas dan merasa dihargai. Sekolah di Finlandia berhasil menyediakan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa dan gurunya.

Suatu ketika, Sophia mengaku terkejut manakala menjumpai sekelompok siswa di sebuah sudut sekolah. Mereka sedang asyik masyuk mengerjakan sebuah proyek, tanpa ada seorang guru pun yang mengawasi di sana. Jika kondisi semacam itu ada di sekolah Indonesia, tentu para murid sudah berpencar hinggap ke sana ke mari. Pendek kata, mereka tetap fokus mengerjakan proyek tersebut, karena siswa sudah merasa bahwa proyek itu adalah subyek yang penting bagi mereka. Luar biasa! Bahkan, Sophia yang juga kerap dimintai masukan oleh Departemen Pendidikan USA sekalipun, mengaku belum bisa meniru bagaimana sikap siswa semacam itu dapat diterapkan di Amerika. 

Bagaimana semestinya SMP Taruna Jaya, menjadi sekolah yang ramah dan bersahabat? Dalam konsep sederhana kami, ketika sekolah sudah menjadi lahan yang bersih dan asri, maka sekolah akan menjadi tempat belajar yang nyaman. Ketika sekolah berhasil menjadi lingkungan yang ramah dan bersahabat, maka sekolah akan menjadi tempat yang paling menyenangkan. Tentunya, setelah SMP Taruna Jaya berhasil menjadi tempat yang nyaman dan menyenangkan, maka belajar apapun juga, akan dapat lebih mudah dicerna.

Problemnya, adalah mewujudkan sekolah sebagai area yang nyaman dan menyenangkan. Menurut Sophia, bahkan sekolah di Finlandia lebih menitikberatkan aktivitas belajar pada permainan. Siswa didorong untuk belajar, melalui kegiatan bermain, berimajinasi, dan penemuan jati diri. Guru tidak hanya mengijinkan, namun benar-benar mendorong siswanya untuk bermain. Sekolah yang menyenangkan, bukan? Khususnya bagi siswa baru, pengembangan potensi diri, akan sangat dihargai. Itu mengapa, SMP Taruna Jaya kemudian memutuskan untuk mengadopsi konsep multiple intelligences milik Howard Gardner. Bahkan di tingkat Perguruan Tinggi, konon masih dijumpai pusat videogame yang sengaja disediakan bagi mahasiswa Finlandia. Namun tentu, untuk dapat menerapkan hal semacam itu di Indonesia, akan butuh aneka persiapan khusus.

Sekolah di Finlandia sangat menghargai personal time. Setiap 45 menit, siswa diberi 15 menit waktu luang. Mereka percaya, bahwa siswa akan kembali fokus dan berhasil terlibat dalam aktivitas pembelajaran, jika memiliki kesempatan untuk bersantai sejenak. Mereka diberi kesempatan untuk sekedar mengobrol di kelas, bermain, atau membaca bacaan lain (bukan buku diktat pelajaran) di kelas. Kegiatan di luar kelas juga sering dilakukan, untuk memompa kebugaran fisik siswa.

Hal lain, sekolah di Finlandia lebih melihat persiapan siswa, atau proses belajar, ketimbang mematok keberhasilan siswa dari standar ujian tertentu yang dilakukan secara khusus. Mungkin jika di Indonesia, itu semacam UTS, UAS, hingga UN. Namun mereka lebih mempercayai mekanisme "test kecil", yakni semacam kuis atau tugas, yang memberikan lebih banyak waktu bagi siswa untuk berpikir atau melakukan penelitian mandiri. Validitas penilaian, dipercayakan kepada guru kelas masing-masing. 

Tentu saja hal itu memungkinkan, karena di Finlandia sudah terjalin trust. Guru, sudah mirip seperti profesi dokter di Indonesia. Dimana pasien yang berobat, telah memberikan kepercayaan terbesarnya kepada sang dokter. Kemendikbud pusat begitu mempercayai Dikbud Pemkot, Pemkot mempercayai sekolah, sekolah mempercayai guru, dan guru mempercayai siswanya. Demikian pula, orang tua akan mempercayakan anaknya sepenuhnya kepada sang guru. 

Mengapa guru begitu dipercaya di Finlandia? Dalam bahasa saya, tidak ada guru "daden-daden" di Finlandia. Tidak ada, mereka yang secara tiba-tiba menjadi guru dan kemudian dengan mudahnya dapat langsung memegang siswa di kelas. Mereka sadar, interaksi kecil antara guru dan siswa di kelas, adalah investasi besar bagi masa depan bangsa. Untuk menjadi seorang guru, harus melalui proses yang sangat ketat, sehingga menjadi profesi yang sangat bergengsi. Hanya mereka yang terbaik dari yang terbaik, yang akan diterima di kampus kependidikan, yang dulu di Indonesia disebut IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan,red.). Selain harus memiliki nilai ujian masuk yang tinggi, calon mahasiswa pendidikan guru juga harus lulus test wawancara untuk mengidentifikasi integritas dan semangat mereka, serta kemampuan pedagoginya. Kampus dituntut komitmennya, untuk benar-benar menemukan kandidat yang sesuai dengan profesi guru. Program pendidikan guru, berbasis riset, dan mereka akan belajar hingga bergelar Master, termasuk kewajiban mempublikasikan tesisnya.

Berikutnya, ada hal penting yang membedakan Finlandia dengan sistem pendidikan di Indonesia. Antar sekolah di sana, tidak saling bersaing. Artinya, setiap sekolah ditampilkan sebagai semacam tempat yang menyediakan program, atau yang dalam bahasa kita dapat disebut "unggulan", yang memang berbeda antara satu sekolah dengan yang lain. Karakterisik setiap sekolah akan menjadi pembeda, berikut terhadap inovasi program belajar yang dikelola. Di sana tidak ada evaluasi, yakni semacam akreditasi yang harus dilalui oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Mengapa tidak ada? Karena semua sekolah memang harus baik! Mungkin dari sini peran Pemkot di Finlandia kemudian mulai dijalankan. Intuisi saya menyebut, mereka tentu tidak akan bersemangat membangun sekolah negeri yang baru. Namun lebih bekerja untuk menjadikan sekolah yang sudah ada, menjadi baik, dan lebih baik dari kondisi sebelumnya. Pembangunan sekolah baru, memang sebaiknya tidak disandarkan pada data kuantitatif, melainkan analisa kualitatif. Menganalisis pemenuhan kebutuhan secara holistik. Sehingga karenanya, tidak akan lahir sentuhan kasih sayang yang berbeda, antara sekolah negeri sebagai anak kandung, dan kemudian menempatkan sekolah swasta sebagai anak tiri. Di sisi lain, sejarah pergerakan bangsa Indonesia sudah demikian gamblang menunjukkan peran perguruan swasta sebagai pelopor perjuangan di bidang pendidikan.

Sekolah Nyaman

Dalam hal ini, pemerintah akan lebih bertanggung jawab untuk mengawal keberlanjutan layanan pendidikan yang sudah ada. Mengapa demikian? Karena semua sekolah yang ada, harus menjadi baik! Mereka tidak memerlukan sekolah favorit yang eksklusif. Tidak ada lagi, satu sekolah yang selalu dilahirkan untuk menjadi rebutan. Tidak perlu ada aksi protes, tatkala sang anak gagal menembus sekolah favorit. Karena semua sekolah, harus sama-sama menjadi favorit bagi masyarakat sekitar. Setiap sekolah, harus menjadi kebanggaan bersama. Antar sekolah tidak perlu lagi bersaing, namun lebih pada memompa potensi lokal untuk mengembangkan keunggulan masing-masing. Dalam hal ini, pemerintah perlu memastikan kepada masyarakat bahwa semua sekolah yang ada, baik itu sekolah negeri maupun swasta, adalah sekolah yang baik bagi peserta didik. Sekolah yang memang sudah dipastikan akan terus didukung secara berkelanjutan, agar tetap mampu menjadi sekolah yang baik bagi warga sekitarnya.

Sehingga dengan demikian, setiap sekolah memiliki otonomi penuh terhadap kurikulumnya. Guru memiliki otonomi penuh untuk memegang kelasnya. Dengan kepercayaan dan dukungan yang diberikan, guru akan terlecut untuk berkreasi dalam membangun sekolah yang inovatif. Seperti halnya di Finlandia, sampai dengan kelas IV, siswa dapat didesain agar lebih fokus pada metacognition dan belajar tentang bagaimana cara belajar. Menarik, bukan? Di sisi lain, etika tidak diajarkan pada kelas agama saja. Etika masuk pada semua topik utama pelajaran. Bahkan jika ada siswa yang dianggap kurang beretika, maka ia harus mengambil kursus etika. 

Agar nyaman dan menyenangkan, infrastruktur sekolah dibuat terhubung antara satu dengan yang lain. Kolaborasi dengan lingkungan sekolah, akan sangat ditekankan, sehingga siswa tidak akan selamanya berdiam diri di dalam kelas. Sekolah di Finlandia, memiliki banyak area yang memungkinkan siswa dari berbagai kelas dan jenjang, saling berinteraksi dengan guru di ruang publik. Siswa dapat bergerak sesuka hati, dan memilih tempat ternyaman di sekolah. Sinar matahari dibiarkan memenuhi seluruh sudut ruang, dan memberikan area yang luas untuk aneka tanaman agar dapat tumbuh lestari. Sekolah, harus mampu menjadi area yang nyaman bagi guru dan siswa untuk dapat saling bekerja sama, melalui kegiatan belajar. Sehingga karenanya, sekolah yang ramah dan bersahabat adalah sebuah potensi untuk dapat mewujudkan happy teaching and happy learning.

oleh:

Yuniawan Heru Santoso, M.Si.

Pengurus Yayasan Pendidikan Taruna Jaya

 

YP Taruna Jaya, 16-09-2016

  1. Kunjungan ke Kasat Reskoba Polrestabes Surabaya
  2. Juara II Kompetisi Futsal tingkat SMP
  3. Surabaya leadership dan Enterpreneur ship challenge
  4. Juara I Futsal Piala Trofeo di SMP AL-Azhar kelapa gading
  5. Prosesi Sertijab Pengurus Osis Periode 2018-2019
  6. sholat dhuhur berjamaah
  7. LDKS 2018
  8. juara I kejurda cherleader jawa timur
  9. Parenting dan Sosialisasi UNBK dan UBS
  10. ujian praktek
  1. Kenali dan Selamatkan Siswa dari Narkoba
  2. Surono Danu dan Kelahiran Buah Pikiran
  3. Prestasi dan Budaya Organisasi Sekolah
  4. Sekolah yang Ramah dan Bersahabat
  5. Work Party di Kebun Sekolah
  6. Bosan Menjadi Guru?
  7. Environmental Education Berkemerdekaan
  8. Mengapa Memilih Sekolah Swasta?
  9. Guru Terbaik dengan Hasil Karya Yang Bermanfaat
  10. Menapak Arah Program Full Day Schools
  1. Lowongan tenaga Guru
  2. Lowongan tenaga administrasi sekolah
  3. Lowongan Tenaga Kebersihan
  4. Pengumuman Jadwal PAS Semester Ganjil
  5. Tiga Jari Ijasan tahun 2017