OPINI

Mengapa Memilih Sekolah Swasta?

Mengapa orang tua memilih sekolah swasta untuk anaknya? Tentu ini pertanyaan mudah untuk diajukan, namun sanggup memberikan varian jawaban yang bersumber dari beberapa sudut pandang. Namun yang menarik, dewasa ini, sudah banyak orang tua yang tergerak untuk menjadikan sekolah swasta sebagai pilihan utama, khususnya pada jenjang pendidikan dasar. Beberapa orang tua, nampak lebih mengutamakan pemenuhan value tertentu bagi anaknya, sehubungan dengan pemilihan sekolah. 

Jika disederhanakan, mungkin kita bisa membagi dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama, mereka cenderung memilih sekolah swasta, hanya jika si anak tidak diterima di sekolah negeri. Ada beberapa ragam alasan yang tertuang di sini. Diantaranya, salah strategi atau salah pilih, nilai anaknya terlalu kecil, hingga akibat kepindahan orang tua dari luar kota. Kelompok pertama ini, biasanya dihuni oleh mereka yang masih memandang sekolah negeri, adalah pemberi garansi kualitas pendidikan terbaik. Secara sosial ekonomi, mayoritas kelompok ini dipenuhi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. 

Setidaknya, pesan kebanyakan orang tua di sudut negeri masih tergambar jelas. "Jika tetap ingin sekolah, nilainya harus bagus, biar bisa masuk negeri! Jika nilainya jelek, ya gak usah sekolah. Tidak kuat bayarnya, nak!," demikian psywar yang kerap dikibarkan orang tua kepada anak saat ada di penghujung kelulusan. Pendek kata, orang tua akan berjuang sedemikian rupa, agar si anak tetap bisa bersekolah di sekolah negeri. Secara sosial, orang tua akan tersanjung, jika anaknya mampu bersekolah di sekolah negeri.

Lantas, bagaimana dengan kelompok kedua? Kelompok ini, cenderung diisi oleh mereka yang religius atau moderat. Bagi wali murid yang religius, pilihan sekolah swasta, lebih didasarkan pada aspek pengajaran nilai-nilai agama. Biasanya, sekolah swasta yang dipilih, adalah sekolah yang berbasis agama. Sementara bagi orang tua yang moderat, mereka sudah membidik sekolah swasta berdasarkan keunggulan yang ditawarkan. Ada yang menelaah berdasarkan tingkat kedisiplinan, metode pendidikan, konsep sekolah, prestasi, atau bahkan dengan merujuk pada ekstrakulikuler yang diminati oleh sang anak. Di sini, wali murid didominasi oleh kelas ekonomi menengah ke atas. Mereka sudah tidak terlalu menyorot besaran biaya yang dibebankan, namun lebih fokus pada aspek value yang akan diperoleh sang anak bersama sekolah swasta yang terpilih.

Oleh karenanya, sekolah swasta yang membidik pasar wali murid di kelas ekonomi menengah ke bawah, tentu akan kewalahan. Mereka akan sulit bergerak, tatkala dihimpit oleh faktor perluasan pagu sebagai bagian dari program pemerintah dalam menyediakan pendidikan murah bagi masyarakat. Di sisi lain, persaingan tak sempurna terpaksa dijalani, ketika hendak bertarung dengan sekolah negeri yang beberapa komponen anggarannya telah ditanggung oleh negara. Padahal di sisi lain, untuk membidik pasar menengah ke atas, sekolah swasta membutuhkan modal pengembangan yang tidak sedikit. 

Nah, sehubungan dengan hal tersebut, ada penelitian menarik yang disampaikan Core Story oleh Empire Research Group, sehubungan dengan pergerakan sekolah swasta di USA. Menurut Digest of Education Statistics, National Center for Education Statistics, hingga tahun 2010 jumlah sekolah swasta di USA terus meningkat sejak satu dekade terakhir. Pada tahun 2010, seperempat dari jumlah sekolah di USA adalah sekolah swasta. Namun pada saat yang bersamaan, pendaftaran siswa di sekolah swasta menurun hingga 3 %. Sejak tragedi September 2001 hingga penghujung 2010, setidaknya sekolah swasta di USA telah kehilangan 200 ribu siswa, akibat adanya resesi. 

Bangku Sekolah Swasta

Selain masalah ekonomi global yang berdampak pada "daya beli" orang tua terhadap sekolah swasta, mereka juga dituntut untuk konsisten terhadap value yang ditawarkan kepada wali murid. Contohnya pada sekolah berbasis agama. Jika ternyata anak didik mereka diketahui masyarakat juga telah terserang oleh penyakit sosial tertentu, maka akan tercipta paradoks bagi citra sekolah mereka. Padahal sebelumnya, sekolah mereka telah banyak menjanjikan perbaikan perilaku terhadap bakal calon siswanya. Di sisi lain, masyarakat juga telah mampu membaca perkembangan terkini di sekitar lingkungan mereka, dengan lebih cepat.

Secara umum, orang tua memiliki harapan yang tinggi kepada sekolah swasta. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Baby Center Medical Advisory Board, pada tahun 2010, lebih dari 60 % orang tua mendaftarkan anaknya di sekolah swasta, disebabkan, antara lain oleh: janji pendidikan yang lebih baik bagi siswa, menyelamatkan anak dari pengaruh lingkungan, kesesuaian minat siswa terhadap program khusus, lingkungan belajar yang lebih baik, kegiatan ekstrakulikuler atau klub, inovasi belajar, rasio guru yang dianggap memadai untuk dapat mengajar dengan baik, serta alasan persiapan untuk pendidikan pada jenjang berikutnya.

Hal penting lain, diketahui bahwa orang tua di USA memerlukan sebuah lingkungan yang lebih ramah untuk anaknya. Di USA, pada tahun 2010, kenakalan remaja di sekolah swasta, lebih rendah hingga 44 % dari sekolah negeri. Sementara untuk kasus penyalahgunaan obat di USA, sekolah swasta berada pada angka 41 % lebih rendah daripada mereka yang bersekolah di sekolah negeri. Data tersebut terbilang sesuai, dengan apa yang mampu disuguhkan oleh sekolah swasta elit di Indonesia, yang sedari awal telah membidik masyarakat kelas menengah ke atas.

Sekolah Swasta

Namun demikian, tuntutan terhadap sekolah swasta tersebut, ternyata menyedot kebutuhan anggaran yang lebih besar, ketimbang sekolah negeri. Untuk segala value yang dibutuhkan oleh orang tua tersebut di atas, sekolah swasta di USA menghabiskan lebih dari $ 20 ribu per siswa. Sementara sekolah negeri, hanya menyedot separuhnya. Hal ini cukup relevan dengan kondisi di Indonesia, ketika misalnya saja, untuk mata anggaran belanja gaji bagi sekolah negeri, sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Di sisi lain, sekolah swasta tetap harus berjuang untuk memenuhi standar gaji bagi guru mereka.

Agar dapat bersaing, sekolah swasta setidaknya membutuhkan anggaran Rp. 300 ribu - Rp. 500 ribu per siswa per bulan. Di sisi lain, bantuan pemerintah untuk sekolah swasta, hanya berada di kisaran angka Rp. 150 ribu per siswa. Hal itu mengapa, kemudian sekolah swasta yang membidik pasar menengah ke atas, lebih memilih untuk tidak menerima bantuan BOS/BOPDA bagi sekolahnya. Untuk sekolah swasta yang tergolong elit, bahkan mereka mampu memperoleh pemasukan hingga Rp. 1 juta per siswa per bulan, pada jenjang pendidikan dasar.

Kondisi demikian, memang menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi sekolah swasta di Indonesia. Mengingat, besaran keuangan masih menjadi salah satu faktor penting, yang mempengaruhi orang tua dalam memilih sekolah. Orang tua masih kerap memikirkan dan mempertanyakan kemampuan mereka, guna membayar jasa yang diberikan oleh sekolah swasta. 

Oleh karena itu, orang tua juga berharap bahwa sekolah swasta akan mampu memberikan ruang bagi mereka, agar dapat terlibat dalam pendidikan anaknya. Sehingga dengan demikian, sekolah swasta kemudian berupaya untuk menciptakan ruang input bagi wali murid, guna dapat menyalurkan energinya bagi perbaikan proses pendidikan putera puteri mereka. Beberapa orang tua, bahkan menginginkan adanya kemitraan yang mampu menampung segala gagasan dan kekhawatiran mereka perihal pendidikan anaknya di sekolah swasta. 

Dalam hal ini, tentu saja dibutuhkan komitmen dan kerja cerdas dari segenap komponen yang bertengger di sekolah swasta, untuk dapat bergegas menjadi market leader. Bergerak dengan jargon inovasi tiada henti, untuk merealisasikan janji dan keunggulannya. Kebulatan tekad, kolaborasi, dan konsistensi merupakan tantangan yang harus segera dikelola dengan baik oleh sekolah swasta.

Jika ternyata, sekolah swasta mampu untuk memenuhi harapan wali murid. Lantas, keraguan apa yang menghalangi orang tua untuk memilih sekolah swasta? Sekolah swasta, sudah semestinya menjadi alternatif terdepan, dan bukan lagi menjadi alternatif cadangan. Sementara perihal pemenuhan janji, biarlah menjadi tantangan bagi masing-masing sekolah swasta dalam mengarungi ajang seleksi alamnya. 

Mari bersama, kita dukung pendidikan terbaik dalam bingkai iklim yang kompetitif. Mari kita persilakan, setiap sekolah untuk membangun sinergi bagi ketersedian lingkungan belajar yang mandiri, unggul dan bermoral. Mari kita dukung, keberanian orang tua untuk bergegas memilih pendidikan yang paling sesuai, bagi minat dan potensi anak.

 

Yuniawan Heru S., M.Si.

Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan

Taruna Jaya Surabaya

YP Taruna Jaya, 15-07-2015

  1. Kunjungan ke Kasat Reskoba Polrestabes Surabaya
  2. Juara II Kompetisi Futsal tingkat SMP
  3. Surabaya leadership dan Enterpreneur ship challenge
  4. Prosesi Sertijab Pengurus Osis Periode 2018-2019
  5. sholat dhuhur berjamaah
  6. juara I kejurda cherleader jawa timur
  7. Juara I Futsal Piala Trofeo di SMP AL-Azhar kelapa gading
  8. LDKS 2018
  9. Parenting dan Sosialisasi UNBK dan UBS
  10. ujian praktek
  1. Kenali dan Selamatkan Siswa dari Narkoba
  2. Surono Danu dan Kelahiran Buah Pikiran
  3. Prestasi dan Budaya Organisasi Sekolah
  4. Sekolah yang Ramah dan Bersahabat
  5. Work Party di Kebun Sekolah
  6. Bosan Menjadi Guru?
  7. Environmental Education Berkemerdekaan
  8. Mengapa Memilih Sekolah Swasta?
  9. Guru Terbaik dengan Hasil Karya Yang Bermanfaat
  10. Menapak Arah Program Full Day Schools
  1. Lowongan tenaga administrasi sekolah
  2. Lowongan Tenaga Kebersihan
  3. Pengumuman Jadwal PAS Semester Ganjil
  4. Tiga Jari Ijasan tahun 2017
  5. Pemberitahuan Daftar Ulang