OPINI

Menapak Arah Program Full Day Schools

Apa itu full day schools? Bagaimana menjalankannya? Apakah memang diperlukan? Demikian, begitu banyak pertanyaan seputar program full day schools, ketika kita hendak membandingkannya dengan program sekolah konvensional yang dikenal sebelumnya. Menurut saya, ini bukan padanan yang tepat. Dengan kata lain, tidak pada tempatnya kita mendiskusikan, tentang manakah yang lebih baik, antara program full day schools dengan program sekolah konvensional? Lebih menarik untuk didiskusikan, manakala program tersebut ditelaah terkait dengan kebutuhannya. Mari kita berselancar ke dunia full-day schools.

Di beberapa kota besar, program full day schools (FDS) begitu dipuja. Bak gayung bersambut, beberapa orang tua lebih menyukai program ini diperuntukkan bagi anak-anak mereka di perkotaan. Meski menurut saya, program non-full day schools, cenderung masih nyaman jika tetap diberlakukan di pedesaan. Di desa, masih tersedia hamparan tema yang melimpah jika digunakan untuk “belajar”. Keheningan desa, atau lebih tepatnya ketenangan desa, akan lebih familiar jika digunakan oleh siswa untuk mengeksplorasi diri dalam menterjemahkan aneka bentukan-bentukan dari kegiatan belajar.

Ada apa dengan perkotaan? Seperti halnya pernah ditulis oleh Diana I. Kruger dan Matias E. Berthelon, bahwa di Chile, program FDS diakui tidak hanya sebagai pusat pembelajaran. Namun juga merupakan ruang sosial untuk melindungi siswa terhadap resiko putus sekolah, penyalahgunaan obat, dan tindak mempekerjakan anak. Di sana, program FDS cukup berhasil dalam mengurangi perilaku seksual beresiko di kalangan perkotaan, kenakalan remaja, dan beberapa yang lain. Hal ini dimungkinkan, akibat ketersediaan akses bagi sekolah untuk berperan sebagai “ibu” bagi anak remajanya.

Namun benarkah, program FDS hanya "menguntungkan" bagi kepentingan orang tua saja? Apa benar, di sekolah FDS kebebasan masa bermain atau masa remaja siswa akan terkekang? Konon, program FDS ini sudah dikenal dunia, di era penghujung tahun 1990 an. Di Jerman, program all day schools, diyakini tak hanya mampu meningkatkan kemampuan akademik saja, namun juga dipandang berhasil untuk menciptakan iklim kompetitif bagi siswa di bidang olah raga. Selain mewadahi semangat siswa dalam aneka kegiatan ekstrakulikuler, program ini juga disenangi siswa, akibat mampu menjauhkan mereka dari anekdot,”Boring teacher with boring things!” Yups. Rupanya, para siswa mulai juga menyukai program FDS, karena diantaranya, mereka tidak lantas menambah jam belajarnya di kelas. Tentu saja, ini menjadi sesuatu yang menarik. 

Dikatakan oleh Inga Diercks, bahwa di Jerman, program all day schools, selain untuk meningkatkan kualitas akademik, juga ditujukan untuk membangun kepribadian siswa. Di sekolah, siswa didorong untuk memiliki keterampilan sosialnya, hingga tersengat untuk membangun identitas individu ataupun kelompok, bersama teman sebaya. Selain itu, sekolah juga akan menyediakan aneka Klub yang sanggup memenuhi rasa dahaga siswa untuk bergerak. Sebut saja, keberadaan Klub sains, Klub Bahasa asing, hingga terbukanya ruang bagi redaksi Koran sekolah. Pada sekolah yang hendak mengembangkan konsep environmental education, tentu akan banyak waktu yang dimiliki untuk menggiring siswanya untuk melakukan aneka eksplorasi di lapangan.

Seberapa program FDS ini akan nampak tidak membosankan? Tentu, akan sangat tergantung dengan kreatifitas dan inovasi guru dalam menyusun program FDS di sekolah. Jadi, program full day schools sebenarnya tidak hanya berbicara tentang penambahan jumlah jam belajar. Siswa yang biasanya pulang pukul 13.00, lalu sekarang harus dipulangkan hingga pukul 16.00 waktu setempat. Memang tidak demikian! Meski di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa di kota besar dunia, program bersekolah semacam ini banyak diminati. Pada beberapa kota di Jerman misalnya, program sejenis dianggap berhasil meningkatkan nilai perekonomian di sektor kaum wanita. Dengan adanya program ini, ibu bekerja bukan merupakan penghalang, bagi kewajiban pengasuhan dan pendampingan anak.

Pada beberapa tempat di Jerman, bahkan telah dipersiapkan program kreatif. Pada program all day schools di sana, disediakan pula ruang atau bengkel bagi workshop “cita-cita”. Program ini membuka siswa untuk mencari dan memilih profesi apa yang menurut mereka menarik. Bahkan mereka bisa memilihnya, berdasarkan profesi yang sedang digeluti oleh orang tuanya. Lantas di sana, disediakan semacam workshop sehubungan dengan pengetahuan dasar yang terkait dengan pekerjaan tersebut. Bahkan, di beberapa sekolah, program ini memungkinkan bagi siswa untuk menjadi atau menjalankan sebuah profesi, pada beberapa waktu yang telah dirancang khusus oleh sekolah.

Contoh Kegiatan Full-day Schools

Lantas, bagaimana agar siswa merasa betah di sekolah? Dalam hal ini, Sarah Plastino telah melakukan penelitian di Amerika Latin, agar siswa merasa nyaman di sekolah. Disebutkan, bahwa agar siswa merasa nyaman, diperlukan upaya untuk mengenal siswa dan belajar tentang keluarga mereka. Siapa yang melakukannya? Tentu saja, ini merupakan tanggung jawab dari sekolah yang menerapkan program FDS.

Dengan demikian, diharapkan agar sekolah mampu menyajikan kurikulum yang “hangat” dan akrab bagi para siswa. "Sekolah yang ramah dan bersahabat!," begitu bahasa yang biasa digunakan oleh SMP Taruna Jaya Surabaya. Sekolah akan lebih banyak menjalankan peran sebagai orang tua dan saudara bagi siswa di sekolah. Program lanjutan seperti, kunjungan ke rumah teman, diharapkan mampu memberi pemahaman yang lebih baik tentang budaya dan lingkungan.

Pada titik penting yang lain, sekolah berkewajiban untuk memberi ketersediaan makanan yang sehat, sekaligus tempat makan yang nyaman bagi siswa. Tentu saja, hal ini akan sejalan dengan upaya SMP Taruna Jaya untuk membangun lingkungan sekolah yang bersih dan asri. Dalam hal ini, mengolah makanan yang diperoleh dari kebun sekolah, merupakan salah satu strategi terbaik yang akan memberikan aspek pembelajaran terpadu. Selain itu, pemberian makanan tradisional, akan dianjurkan sebagai bagian dari pemahaman siswa terhadap kekayaan budaya dan kebiasaan makan yang dikenal oleh lingkungan sekitarnya.

Beberapa kiat lain yang dapat dilakukan, disebut oleh Sarah Plastino, bahwa sekolah dapat menetapkan kelompok kerja kecil di kelas untuk dapat membantu menciptakan lingkungan yang bersahabat bagi siswa baru, maupun pada siswa yang berada pada jenjang yang lebih junior. Pada prinsipnya, siswa akan selalu didorong untuk menjadi diri sendiri, dan mampu mengembangkan potensi diri, baik secara individu maupun berkelompok. Tentu saja, dengan jalan mengoptimalkan ketersediaan waktu bagi sekolah berbasis FDS. Bagi pihak sekolah, dipandang perlu untuk menganggap setiap siswa sebagai potensi biokultural. Sekolah berkewajiban untuk memiliki kepekaan, dan senantiasa siap membantu siswa dalam meningkatkan situasi nyaman saat belajar mengembangkan dirinya di sekolah.

 

Yuniawan Heru S., M.Si.

Pengurus Yayasan Pendidikan

Taruna Jaya Surabaya

Yayasan Pendidikan Taruna, 24-11-2014

  1. Kunjungan ke Kasat Reskoba Polrestabes Surabaya
  2. Juara II Kompetisi Futsal tingkat SMP
  3. Surabaya leadership dan Enterpreneur ship challenge
  4. Prosesi Sertijab Pengurus Osis Periode 2018-2019
  5. sholat dhuhur berjamaah
  6. juara I kejurda cherleader jawa timur
  7. Juara I Futsal Piala Trofeo di SMP AL-Azhar kelapa gading
  8. LDKS 2018
  9. Parenting dan Sosialisasi UNBK dan UBS
  10. ujian praktek
  1. Kenali dan Selamatkan Siswa dari Narkoba
  2. Surono Danu dan Kelahiran Buah Pikiran
  3. Prestasi dan Budaya Organisasi Sekolah
  4. Sekolah yang Ramah dan Bersahabat
  5. Work Party di Kebun Sekolah
  6. Bosan Menjadi Guru?
  7. Environmental Education Berkemerdekaan
  8. Mengapa Memilih Sekolah Swasta?
  9. Guru Terbaik dengan Hasil Karya Yang Bermanfaat
  10. Menapak Arah Program Full Day Schools
  1. Lowongan tenaga administrasi sekolah
  2. Lowongan Tenaga Kebersihan
  3. Pengumuman Jadwal PAS Semester Ganjil
  4. Tiga Jari Ijasan tahun 2017
  5. Pemberitahuan Daftar Ulang