OPINI

Menenggelamkan Kecurangan Akademik

Sosialisasi tentang nilai-nilai baik, memang pantas untuk disebarluaskan di kalangan lembaga pendidikan formal. Menurut saya, sehubungan dengan penanaman nilai baik, komunitas belajar informal cenderung bergerak lebih maju. Sementara untuk lembaga pendidikan formal, cenderung disibukkan dengan tuntutan administratif yang harus segera dituntaskan. Tentunya, ini juga terkait dengan dialektika formal yang menaungi birokrasi mereka. Sebagaimana pernah diulas dalam opini "Berani Jujur, atau Berani Curang?", saya juga berkesempatan melihat sebuah sekolah swasta di Surabaya, tampak berani memampang baliho besar di depan sekolahnya, seakan berkata bahwa,"Sekolah kami, Berani Jujur"!

Menurut hemat saya, bergerak di tataran slogan saja tidak cukup. Meski harus diakui, bahwa peran penanaman nilai oleh media terasa begitu diperlukan. Namun, mengingat sudah begitu kuatnya mental siswa dan pendidik yang telah terperosok ke dalam lembah "pembiaran", maka bekerja dalam tataran slogan saja memang kurang memadai. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dan penyusunan rencana strategis yang konsisten dan berjenjang. Secara antropologis, tindak pembiaran yang pada awalnya akan mempertontonkan perilaku menyimpang, dapat melahirkan upaya pewarisan. Sehingga dengan demikian, dapat melahirkan budaya baru.

Seperti halnya kasus joki penyebar kunci jawaban UN belum lama ini, beberapa SMA di Surabaya diketahui terlibat. Bahkan beberapa sekolah di luar Surabaya, ditengarai juga telah memanfaatkan kunci jawaban dari dua sosok joki yang diberitakan sudah cukup dikenal di kalangan siswa. Mereka memperoleh pewarisan dari kakak kelas, yang terbukti telah berhasil lulus dengan baik. Dalam benak adik kelas, sang kakak kelas merupakan model yang ternyata, "prestasinya" juga berhasil mendapat apresiasi dari guru, orang tua, dan masyarakat. Bahkan mungkin, beberapa di antara mereka, kini telah berhasil melanjutkan kuliah di beberapa perguruan tinggi ternama.

Dalam hal ini penanaman nilai baik, tentang kejujuran misalnya, terasa belum cukup mampu untuk mengurai kekuatan dari akar kecurangan yang telah berjalan sistemik. Perilaku menyimpang ini terus dibiarkan, sehingga telah membelenggu untuk waktu sekian lama. Lembaga pendidikan di tanah air, harus diakui, telah terbiasa menyaksikan aksi pembiaran, terhadap segala perilaku curang, yang terus digerus oleh kepentingan besar lain. Dinamikanya terus berkembang, dan berjalan sesuai dengan perkembangan zaman.

Masih segar dalam ingatan saya, ketika pada masa SD dulu, di akhir tahun 1980an, para guru menghimbau siswa pandai di kelas, agar bersedia untuk memperlihatkan LJU (lembar jawaban ujian) -nya kepada siswa lain. Kami dianjurkan untuk bersedia "membantu" kawan terdekat yang dianggap lemah secara akademis. Demikian pula, saat memasuki bangku SMP dan SMA, para pengawas hanya terlihat memperingatkan agar kelas tidak gaduh, namun tetap memberi toleransi bagi siswa yang terlihat berlaku curang.

Lantas bagaimana kiat untuk mengobati perilaku curang tersebut? Bagaimana langkah untuk menenggelamkan kecurangan akademik? Ada satu artikel menarik, yang ditulis oleh Farooq Sheikh dan Anthony Yanxiang Gu. Artikel berjudul: "Can Business Curriculum and Education Eliminate Cheaters?" ini, berusaha untuk menemukan alasan tentang mengapa mahasiswa MBA (Master of Business Administration), cenderung curang jika dibandingkan dengan mahasiswa pada jurusan yang lain. Menurut saya, hasil temuannya, dapat digunakan untuk menelaah perilaku curang, yang juga terjadi di beberapa sekolah Indonesia. Tentu saja dengan konteks dan telaah yang disesuaikan dengan latar kajian.

Bangun Lingkungan yang Jujur

Dalam artikel tersebut dikatakan, bahwa kecurangan sudah pasti akan bertentangan dengan semua kode etik. Namun perlu juga dicermati, perihal memahami pilihan sebagai sesuatu yang berasal dari perilaku rasional, namun egois. Dengan demikian, perlu dipahami keberadaan suasana yang mungkin mempengaruhi siswa, untuk memilih berperilaku curang. Dalam hal ini, peran pendidik dirasa penting. Para pendidik, yang dalam hal ini guru, harus membantu siswa dalam membangun etika belajar, melalui kegiatan kelas sehari-hari.

Berbuat curang menjadi sesuatu yang bisa dipahami, ketika bertujuan untuk mengejar nilai akademik yang tinggi. Setidaknya, akan menggelembung menjadi suatu hal yang rasional, tatkala semua sepakat, bahwa siswa yang tidak naik kelas atau tidak lulus, tidak pantas mendapat apresiasi. Semua sependapat, bahwa kondisi demikian adalah kegagalan akademik. Untuk itu, setiap siswa berlomba untuk bersikap egois, menyelamatkan dirinya atau kelompoknya, agar berhasil lolos dari kegagalan akademik. Sekolah akan berusaha egois untuk menyelamatkan muridnya, sementara pihak Yayasan juga akan berjuang untuk menyelamatkan nasib sekolahnya. Demikian seterusnya, akan kian kompleks, dan menebar secepat reaksi fusi, terus meluas hingga stratifikasi tertentu pada level organisasi yang lebih tinggi.

Kondisi demikian, terjadi akibat lahirnya sikap toleransi terhadap pemahaman akan sesuatu yang dianggap rasional. Misalnya saja, jika seorang siswa tinggal kelas, maka bagaimana dengan biaya pendidikannya? Bagaimana dengan umurnya? atau bagaimana dengan beban psikologis yang akan dialaminya? Sikap demikian, akan tumbuh subur, manakala ada pembiaran yang diberikan oleh guru. Dalam hal ini, guru memegang peran penting, dalam menciptakan lingkungan belajar yang mengedepankan nilai-nilai kejujuran. 

Menurut saya, hal tersebut cukup beralasan. Mengingat, beberapa praktik kecurangan dalam ujian, tak jauh dari peran para guru. Untuk itu, para guru harus memahami, bahwa ia adalah sosok yang paling bertanggung jawab, manakala siswa mereka, masih berani berbuat curang. Pendekatan yang diberikan pendidik dalam menciptakan suasana yang mendukung "nilai" berani dan jujur, akan sangat berperan. Apresiasi yang diberikan oleh guru, terhadap siswa yang "berani jujur", tentu akan menciptakan ruang baru bagi usaha pembangunan lingkungan belajar yang jujur. Selain itu, guru juga memegang peran sebagai model bagi setiap anak didiknya.  

Berkarakter Lokal

Masih merujuk pada artikel milik Farooq Sheikh dan Anthony Yanxiang Gu, bahwa praktik curang akan terjadi, ketika lahir motivasi untuk berselingkuh, terkait dengan bagaimana siswa memandang sekolah atau pilihan jurusan dalam studinya. Kesemuanya, akan terhubung dengan masa depan atau karir pekerjaan, ketika kelak ia dewasa. Dalam hal ini, terdapat persepsi siswa yang coba menterjemahkan antara pilihan studinya saat ini, dengan masa depan karir pekerjaannya, sehingga ia menjadi mempertimbangkan secara berlebihan untuk menjaga kepentingan individualnya sendiri. Misalnya, ketika siswa SMA menghadapi masa pembagian jurusan studi, maka ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk berhasil masuk jurusan IPA. 

Mengapa demikian? Dalam lingkungan belajarnya, seakan sudah tergelar peta masa depan, bahwa kegagalan masuk di jurusan IPA, akan menamatkan karir sang siswa. Kegagalan memasuki jurusan IPA, laksana kiamat bagi sebagian orang tua dan siswa. Mereka dibayangi ketakutan, untuk memenangkan peluang dalam fase pemilihan jurusan di bangku kuliah. Beberapa kasus menunjukkan, bahkan beberapa orang tua masih berpeluang untuk melakukan lobby, dan berharap agar anaknya bisa masuk ke jurusan IPA. Belum lagi, adanya ketakutan saat kelak juga akan mengalami kesulitan dalam menerjuni dunia kerja. Jadi, telah lahir asumsi, bahwa jumlah nominal upah yang akan diperolehnya kelak di dunia kerja, tergantung pada nilai akademik pada jenjang sebelumnya. Dengan demikian, seorang siswa akan beranggapan, bahwa karir dunia kerjanya, akan ditentukan oleh keberhasilan akademik, sejak ia berhasil masuk di jurusan IPA.

Kondisi demikian, akan membuat siswa cenderung untuk bertindak curang. Rupanya, dampak ini bisa dikurangi, ketika sebuah sistem pendidikan, mampu menyajikan skema penilaian yang merujuk pada aspek lokal. Dalam hal ini, keberhasilan dalam masa percobaan, akan tergantung pada keberhasilan siswa dalam menunjukkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui kurikulum yang diberikan oleh sekolah. Konsep local wisdom, sepertinya sesuai untuk dikembangkan dalam beberapa konsep sekolah kawasan. Tentu saja, dengan demikian, beberapa muatan lokal akan berkembang menjadi basis-basis laboratorium yang mampu menopang keunggulan bagi setiap sekolah.

Jadi misalkan saja seorang siswa SMP yang hendak masuk ke sebuah SMA, maka keberhasilannya untuk masuk di sebuah SMA tidak didasarkan pada nilai UN. Merujuk pada istilah sejenis di masa lalu, para siswa tidak diterima berdasarkan "Nilai Ebtanas Murni", melainkan harus mengikuti ujian secara lokal, yang materinya disesuaikan dengan indikator kecerdasan dan kesesuaian minat dengan tujuan pendidikan, pada masing-masing sekolah. Dalam hal ini, setiap sekolah akan berusaha mengembangkan keunggulan, melalui beberapa program tertentu yang bisa diambil dari kecerdasan multi dimensi siswa. 

Pada intinya, tidak ada siswa yang dianggap bodoh atau tidak berbakat. Setiap siswa diakui memiliki kelebihan pada aspek kecerdasarn tertentu. Sebagai konsekuensi, siswa akan dipindahkan ke sekolah lain yang indikatornya terintegrasi melalui Dinas Pendidikan setempat, yakni ketika ternyata ia dinyatakan tidak berhasil menunjukkan pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan. Jadi, siswa tidak mengalami naik kelas, namun hanya dipindahkan ke sekolah lain yang dinilai lebih sesuai. Agak rumit memang, namun masih memungkinkan untuk dilakukan, jika setiap sekolah sudah terintegrasi berdasarkan beberapa aspek pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya. Pada ranah ini, setiap siswa akan terbiasa berjuang, dengan tanpa harus berbuat curang. Di sisi lain, konsep integrasi yang dibangun, akan dapat menjalin tali kerja sama, antara sekolah negeri dan sekolah swasta yang berada dalam satu kawasan.

Mempelajari Potensi Kecurangan

Beberapa bagian dari masyarakat, percaya bahwa kecurangan merupakan praktik yang bisa diterima dalam dunia bisnis. Pembenarannya, dengan menyebutkan bahwa orang-orang di dunia bisnis kerap menghadapi ketidakpastian, maka tindakan semacam menyembunyikan informasi penting, atau usaha mencoba untuk mengetahui rahasia pihak lain, serta penggunaan trik dalam negosiasi, merupakan hal yang wajar untuk dilakukan dalam dunia usaha.

Contoh lain, perilaku menyuap dipandang dapat diterima, asal sesuai dengan kebutuhan, dan bertujuan baik. Misalkan saja, dengan alasan efisiensi, seorang pengusaha ditoleransi untuk menyuap PNS, sebagai bentuk ucapan terima kasih, karena sudah membantu urusan bisnisnya. Pemberi suap, juga merasa sudah membantu keluarga sang PNS, karena merasa berempati terhadap gaji kecil PNS yang dipandang tidak lagi mencukupi untuk menjalani kehidupan yang laik.

Sehingga dengan demikian, siswa akan cenderung untuk menipu atau bertindak curang, berdasarkan pengetahuan yang mereka peroleh dari toleransi yang diberikan oleh lingkungan terhadap perilaku tertentu. Sehubungan dengan itu, siswa bisa saja berpandangan, bahwa jika ingin sukses, maka keberhasilan dalam bisnis ternyata juga membutuhkan keterampilan untuk berperilaku curang atau licik. Dalam hal ini, siswa telah disodori ruang belajar, melalui pola relasi yang sudah dicontohkan oleh lingkungan belajarnya. 

Potensi kecurangan, berdasarkan praktik yang terjadi di masyarakat, ternyata juga akan dapat memberi warisan pengetahuan terhadap siswa. Untuk itu, sekolah berkewajiban untuk menciptakan dan mendampingi lingkungan belajar terbaik bagi para siswa. Beberapa program lokal, masih dapat dilakukan oleh pihak sekolah guna memberi informasi yang berimbang kepada para siswa.

Kesiapan Siswa untuk Diuji

Berdasarkan hasil temuan dari Farooq Sheikh dan Anthony Yanxiang Gu, bahwa siswa harus termotivasi dan siap untuk mengikuti ujian yang diberikan oleh pihak eksternal, sehingga mereka dapat mengurangi aksi curang. Sehubungan dengan itu, terdapat beberapa indikator penunjang, seperti: ukuran kelas, tugas atau pekerjaan rumah, varian dari bentuk ujian yang berbeda, tingkat kesulitan yang berbeda, serta beberapa hal lain. Selain itu, program sekolah yang diberikan, diusahakan agar menjadi sedemikian relevan dengan karir mereka di masa depan.

Dalam hal ini, siswa harus mendapat motivasi yang cukup, dan merasa siap untuk mengikuti ujian yang diberikan oleh pihak eksternal secara berkesinambungan. Misalkan saja, pihak sekolah dapat bekerjasama dengan LBB untuk memberikan soal ujian tengah semester, berikut pengawas ujiannya. Cara lain, dalam satu mata pelajaran, diusahakan agar selalu memiliki bentuk ujian yang bervariasi. Misalkan saja, saat ulangan harian, tidak selalu dilakukan dengan menggelar ujian tertulis, namun juga dapat melakukan ujian lisan. Penggunaan alat peraga, juga merupakan daya dukung yang penting terhadap terciptanya varian ujian bagi siswa.

Menjalin kerja sama dengan sekolah lain, juga bisa memberikan solusi. Misalkan saja, sekolah secara reguler menggelar pertukaran materi dan pengawas ujian, sehingga siswa masing-masing menjadi terbiasa untuk menghadapi pola dan iklim yang hendak dirasakan dalam ujian akhir. Ruang kelas yang longgar dengan siswa yang lebih sedikit, diyakini juga akan mampu mengurangi potensi tindakan curang yang dapat dilakukan oleh siswa. Jika seorang guru dapat membimbing 10 siswa, maka sekolah akan dapat melakukan rencana strategis lain, yang memungkinkan para siswa untuk tertempa, dan senantiasa siap dalam menghadapi ujian.

Organisasi Pusat yang Kuat

Pada kasus konfirmasi "MBA sebagai The Biggest Cheaters", menunjukkan bahwa kepemilikan organisasi pusat yang kuat, dapat menekan kecurangan. Di lain sisi, kampus yang tidak memiliki organisasi pusat yang kuat, maka beberapa mahasiswanya terkesan hanya ingin berburu gelar, sehingga mereka cenderung bertindak curang, akibat tidak terlalu ingin memperoleh pengetahuan.

Jika direlasikan dalam konteks organisasi sekolah, maka pada kasus sekolah swasta misalnya, organ Yayasan Pendidikan ternyata memegang peran penting. Yayasan Pendidikan yang kuat, bagi beberapa sekolah swasta, diyakini dapat menciptakan budaya organisasi yang mampu menanamkan, mengontrol, membenamkan, dan melestarikan nilai-nilai tertentu yang tercermin melalui program yang diterapkan oleh organisasi sekolah. Dengan kata lain, kebijakan yang kuat, diyakini akan dapat mempengaruhi sekolah-sekolah yang berada di bawah naungannya.

Untuk sekolah negeri, memang akan melibatkan struktur birokrasi yang lebih gemuk. Namun demikian, bukan tidak mungkin, organisasi tetap mampu menyuntikkan nilai-nilai baru yang dapat diwariskan dengan baik. Faktor kepemimpinan misalnya, bisa jadi akan menjadi salah satu faktor penting. Dalam hal ini, kekuatan kontrol, prediksi, evaluasi dan pengembangan yang baik, tentu akan dapat melahirkan sistem birokrasi yang saling bertautan. Keterkaitan dan tautan yang dibingkai dalam pemahaman yang sama, diyakini dapat merumuskan dan merealisasikan tujuan yang telah diyakini bersama.

Pentingnya, Etika Akademik

Sehubungan dengan organisasi pendidikan, para siswa belajar untuk curang, tentu saja dari kawanan yang sukses. Jika para kakak kelas sebelumnya dianggap sukses dengan raihan nilai akademik yang tinggi, maka setiap adik kelas akan berkiblat kepadanya. Jika sekolah juga memberikan apresiasi yang tinggi, meski nilai tersebut diraih melalui tindakan curang, maka adik kelas juga akan menganggap bahwa kesuksesan dengan cara curang tersebut, sebagai tindakan yang juga pantas untuk diakui oleh masyarakat.

Apa yang bisa dilakukan sekolah? Dalam konteks bahasan ini, Farooq Sheikh dan Anthony Yanxiang Gu, menyatakan bahwa program konvensional tidak cukup mampu untuk menekan perilaku curang dari para siswa. Biasanya, sekolah hanya melibatkan para siswa dalam dialog-dialog tentang integritas akademik yang diawali pada saat perekrutan siswa baru, yang kemudian berlanjut pada masa orientasi siswa, upacara inisiasi, atau beberapa program lain. Menurut keduanya, hal ini belum cukup, untuk menghilangkan perilaku curang pada siswa.

Selanjutnya mereka berpendapat, bahwa program-program pendidikan yang memiliki komponen build-up yang kuat atau dilakukan secara intensif, akan dapat membantu dalam menggerakkan perubahan. Setiap sekolah harus mampu membangun sebuah program, dimana suatu mata pelajaran pada tingkat yang lebih tinggi, akan memiliki persyaratan dan prasyarat yang kuat, sehingga diyakini akan dapat memiliki tingkat kecurangan yang lebih rendah.

Misalkan saja, seorang siswa dalam mata pelajaran PLH. Saat duduk di kelas VII, ia diwajibkan untuk menanam bunga. Maka jika saja, seorang siswa berperilaku curang, dengan mencuri batang tanaman bunga dari sebuah pot bunga di jalanan, ia seharusnya tidak dapat mengikuti mata pelajaran PLH di kelas VIII. Sebagai contoh, di kelas VIII siswa diwajibkan mengikuti program pemeliharaan tanaman. Dengan demikian, bagi siswa yang bertindak curang, maka dapat dipastikan tanamannya akan layu dan mati, sebelum ia mengikuti ujian akhir di kelas VII. Sehingga dengan demikian, jika ia tetap ingin mengikuti program di kelas VIII, maka ia harus mengikuti program khusus, di masa liburan sekolah, yang mewajibkan ia mengikuti langkah teknis, sebagaimana yang telah dilakukan oleh teman sekelas yang berhasil tekun dan jujur.   

Dengan demikian, siswa akan menyadari bahwa kecurangan, yang meskipun bisa jadi tetap memiliki tingkat keberhasilan yang acak, dipastikan tidak akan membawa kesuksesan akademik. Perilakunya, mungkin tidak akan menjamin kemajuan, sehingga mengharuskan siswa untuk mengikuti program khusus yang akan memaksakan kebutuhan yang kuat terhadap lahirnya tindakan jujur. Sebuah tindakan jujur, akan dapat menumbuhkan benih-benih perilaku yang berbasis kepada nilai-nilai kejujuran.

Jika pihak sekolah dapat membangun kurikulum dan program semacam ini, maka sekolah tidak hanya akan mampu menjelaskan tentang kosekuensi terhadap sebuah kecurangan, namun juga akan mampu membangun karakteristik kurikulum yang bebas terhadap rencana kecurangan. Di lain sisi, sekolah juga telah menunjukkan komitmen, untuk membangun suasana lingkungan belajar yang mendukung dan memberi apresiasi terhadap nilai-nilai kejujuran dan kesuksesan akademik bagi seluruh siswa peserta didik. 

 

Yuniawan Heru S

 
Yayasan Pendidikan Taruna Jaya

Yayasan Pendidikan Taruna, 07-05-2014

  1. Sambang Kampung membuat batik sibori
  2. SMP Taruna Jaya I Sekolah Prestasi
  3. Pendidikan era 4.0
  4. Ingin Optimalkan Alat Peraga, SMP Taruna Jaya Kunjungi PT Wardhana
  5. QUANTUM KELAS
  6. SMP Taruna Jaya Gelar Workshop Pembuatan Soal Ujian Online
  7. SMP Taruna Jaya Nyatakan Siap Songsong Tahun 2019
  8. Perkuat Visi Sekolah, Kepala Sekolah Ajak Galang Kebersamaan
  9. Kepala Sekolah, Sampaikan Sasaran Mutu 2019
  10. USBN SMP Taruna Jaya I
  1. Goodbye, Sekolah (Swasta) Murah!
  2. Kenali dan Selamatkan Siswa dari Narkoba
  3. Surono Danu dan Kelahiran Buah Pikiran
  4. Prestasi dan Budaya Organisasi Sekolah
  5. Sekolah yang Ramah dan Bersahabat
  6. Work Party di Kebun Sekolah
  7. Bosan Menjadi Guru?
  8. Environmental Education Berkemerdekaan
  9. Mengapa Memilih Sekolah Swasta?
  10. Guru Terbaik dengan Hasil Karya Yang Bermanfaat
  1. Lowongan untuk tenaga pegawai dan guru baru
  2. Lowongan Tenaga Administrasi
  3. Lowongan untuk tenaga staf admin dan pegawai koperasi
  4. Lowongan untuk tenaga guru baru
  5. pengumuman guru olah raga