OPINI

Berani Jujur, atau Berani Curang?

Baru-baru ini slogan kejujuran dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN), kian lantang untuk dihembuskan kepada seluruh siswa yang hendak mengikuti ujian akhir. Slogan "Berani Jujur" pun, terus dikumandangkan dalam setiap kesempatan. Tahun 2014 ini memang terasa lebih semarak, ketika banyak media massa yang berkenan membantu untuk memberi penekanan terhadap pesan tersebut, sebagai sebuah gerakan moral. Sebuah kondisi yang sebenarnya telah diajarkan oleh setiap agama yang dianut oleh penduduk Indonesia. 

Itulah yang menjadi salah satu alasan, mengapa secara pribadi, saya kurang sependapat terhadap pemasangan istilah agamis pada visi misi organisasi sekolah. Menurut saya, sebuah visi itu, meski bersifat jangka panjang, harus sederhana dan diyakini bersama akan dapat diwujudkan, atau dibenamkan ke dalam setiap sendi kehidupan organisasi. Jika merasa belum siap, maka kita tancapkan saja visi yang lebih realistis untuk dikejar. Menurut saya, seluruh hal baik yang dikerjakan dengan niat baik, pasti akan mengikuti sunnah dari sang Penguasa jagad raya. Sehingga dengan kata lain, meski tidak menggunakan istilah agamis, sebuah visi yang ditujukan untuk kebaikan, tentu akan berjalan di atas sunnatulloh (سنة الله). Jadi, jika ingin berbuat baik berlandaskan nilai-nilai agama, tidak harus dilakukan dengan jalan menggunakan istilah-istilah keagamaan.

Dalam batin, saya sering terheran-heran dan bertanya,"Bagaimana mungkin sekolah yang berbasis agama, ternyata mampu menyusun rencana yang masif dan terstruktur untuk berbuat curang?" Bahkan dalam sebuah reportase radio, pada sebuah sekolah agama di Jawa Timur, diketahui bahwa pihak Yayasan memerintahkan kepada alumni yang pandai, untuk bersedia mengikuti UN dan bertindak sebagai joki bagi adik kelasnya. Ada juga, sebuah sekolah yang setiap memulai pelajaran, selalu diawali dengan doa bersama, namun seluruh nilai rapor anak didiknya dikatrol sedemikian rupa, dengan harapan agar mereka dapat lulus dengan "selamat".

Menurut saya, ini sebuah kekonyolan, manakala visi agamis sudah tidak diindahkan, dan lebih memilih untuk beralih kepada sekat penilaian, demi untuk mengejar kebanggaan semu. Para guru, orang tua, dan pihak lain yang terkait, mungkin telah terbiasa bangga atas pujian, manakala siswa mereka memiliki prestasi di atas kertas. Sementara di sisi lain, banyak tindak asusila dan kegiatan tidak terpuji lain, yang kerap dilakukan oleh siswa dan alumni dari lembaga pendidikan formil. Lantas, apakah yang hendak dikejar oleh pendidikan Indonesia?

Saya yakin, sebenarnya pemerintah mampu untuk membuat sistem pendukung kebijakan yang diperoleh dari pelaksanaan UN. Bahkan pemerintah cukup bisa untuk melihat Kabupaten/Kota mana yang melakukan kecurangan, sekolah mana yang terindikasi curang, atau bahkan siapa saja siswa yang patut diduga berani untuk berbuat curang? Hal itu sangat mungkin untuk diperoleh dari sebuah pelaksanaan ujian yang memang bersifat tersentralisir, dan sudah berjalan dari tahun ke tahun. Segala bentuk analisis, akan sangat mungkin untuk dilakukan, demi menegakkan nilai-nilai kejujuran dan keberanian sebagai salah satu outcome bagi proses pendidikan di Indonesia. 

Meski tak harus diwujudkan dalam bentuk punishment, setidaknya analisis tersebut dapat digerakkan untuk membuat rencana strategis dalam tataran teknis. Bahkan jika memungkinkan, perlu dilakukan perubahan kebijakan terkait dengan skema ujian bagi siswa. Pendek kata, perilaku "berani jujur", tentu juga harus dibangun secara masif dan terstruktur, guna menanggulangi praktik kecurangan dalam dunia pendidikan.

SMP Taruna Jaya I Surabaya

Meski belum "terbaca", setidaknya gayung pun bersambut, pimpinan pemerintahan dari hulu ke hilir, terlihat merasa didorong untuk memompa semangat pelaksanaan Ujian Nasional, agar benar-benar dapat berjalan dengan jujur. Setiap statement yang mendukung gerakan UN jujur, langsung disambut laksana umpan lambung yang manis bagi kalangan media. Menurut saya, ruang inilah yang selama ini terkesan jarang digarap oleh teman-teman media. Meski banyak disangkal, namun praktik "bad news is good news", akan selalu berpeluang menghiasi setiap sudut berita di tanah air. Bahkan, pandangan mata rakyat, terkesan terbiasa untuk melihatnya, hingga kemudian mengartikulasikan sebagai "hiburan".

Namun tahun 2014 ini terasa sedikit berbeda. Gerakan "berani jujur" ini kian terasa nyata, tatkala media massa turut membongkar alur penyebaran kunci jawaban yang dilakukan oleh siswa SMA Negeri di Surabaya, belum lama ini. Media massa pun, tak segan untuk menempatkan perilaku curang ini ke dalam kolom headline bagi pembaca metropolis. Proses percetakan, penyimpanan, pengiriman naskah, pelaksanaan ujian, hingga proses pemindaian, terus mendapat sorotan dari pelbagai media. Sebelumnya, media massa juga rajin mempublikasikan statement Mendikbud hingga Walikota, yang sepakat untuk membangun perilaku jujur dalam UN. Bahkan, seorang Kepala Dinas Pendidikan Kota dengan tegas menyatakan, bahwa siswa di kotanya, boleh tidak lulus, namun harus jujur. Menurutnya, pemerintah akan lebih menghargai hasil kerja keras dari siswa yang berani jujur.

Nah, para siswa, beranikah anda jujur? Para guru, beranikah anda berkata jujur, jika merasa tidak cukup berkompeten untuk membimbing para siswa? Para orang tua, apakah anda berani murka, ketika mengetahui nilai anak anda tinggi, namun ternyata diperoleh dari pintu ketidakjujuran? Lantas, bagaimana dengan masyarakat? Apakah kita juga berani untuk memilih mereka yang jujur, meski bernilai akademik rendah?

Di sisi lain, masih banyak pernak-pernik UN yang tengah menghadapi kritikan tajam. Baru-baru ini, seorang siswi dari SMA Khadijah Surabaya dengan berani menantang Mendikbud yang juga berasal dari Surabaya, untuk bersedia mengerjakan soal Matematika UN 2014. Ternyata Nurmillaty bukan siswa biasa. Ia anggota Olimpiade Sains Nasional (OSN) di sekolahnya, yang berhasil meraih medali perak dalam International Competition and Assessments for Schools yang diadakan oleh EAA Australia, untuk bidang studi Matematika. Tak hanya itu, ia juga berhasil lulus dalam ujian kurikulum Cambridge di sekolahnya dengan nilai A untuk pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

Berkaca pada kegalauan yang dikisahkan oleh ananda Nurmillaty, ternyata gerakan berani jujur juga memerlukan penataan pada dimensi lain. Rupanya tak hanya siswa yang patut mendapat penetrasi agar berbuat jujur. Harus diakui, bahwa mereka perlu didukung oleh segenap elemen bangsa. Oleh karena itu, mari, bersama kita dukung generasi penerus yang pemberani, jujur, ramah dan bersahabat. Mari, kita telurkan generasi emas untuk memberikan bonus demografi bagi masa depan bangsa Indonesia.

 

Yuniawan Heru Santoso

Yayasan Pendidikan Taruna Jaya

Pengurus Yayasan Pendidik, 07-05-2014

  1. Sambang Kampung membuat batik sibori
  2. SMP Taruna Jaya I Sekolah Prestasi
  3. Pendidikan era 4.0
  4. Ingin Optimalkan Alat Peraga, SMP Taruna Jaya Kunjungi PT Wardhana
  5. QUANTUM KELAS
  6. SMP Taruna Jaya Gelar Workshop Pembuatan Soal Ujian Online
  7. SMP Taruna Jaya Nyatakan Siap Songsong Tahun 2019
  8. Perkuat Visi Sekolah, Kepala Sekolah Ajak Galang Kebersamaan
  9. Kepala Sekolah, Sampaikan Sasaran Mutu 2019
  10. USBN SMP Taruna Jaya I
  1. Goodbye, Sekolah (Swasta) Murah!
  2. Kenali dan Selamatkan Siswa dari Narkoba
  3. Surono Danu dan Kelahiran Buah Pikiran
  4. Prestasi dan Budaya Organisasi Sekolah
  5. Sekolah yang Ramah dan Bersahabat
  6. Work Party di Kebun Sekolah
  7. Bosan Menjadi Guru?
  8. Environmental Education Berkemerdekaan
  9. Mengapa Memilih Sekolah Swasta?
  10. Guru Terbaik dengan Hasil Karya Yang Bermanfaat
  1. Lowongan untuk tenaga pegawai dan guru baru
  2. Lowongan Tenaga Administrasi
  3. Lowongan untuk tenaga staf admin dan pegawai koperasi
  4. Lowongan untuk tenaga guru baru
  5. pengumuman guru olah raga